Pengalaman Ilahiyah

Pengantar.

Salah satu tanda orang beriman yaitu percaya pada hal yang ghaib (invisible), yaitu sesuatu yang tak terlihat dengan mata atau dengan alat bantu melihat. Hal yang ghaib itu walaupun tak dapat dilihat tetapi keberadaan dan effeknya dapat dirasakan dan dapat dibuktikan. Kepercayaan orang mukmin pada yang ghaib berdasarkan firman Allah SWT :

أََلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلوٰ ةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ

3.  (yaitu) mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. (Quran Surat Al Baqarah ayat 3).

Hal ghaib yang wajib dipercaya dalam Islam ada tiga, yaitu pertama Allah SWT, karena Dia adalah Dzat Maha Ghaib, yang tak ada satupun mahluk mampu melihatnya, Allah berfirman :

لاَ تُدْرِكُهُ الاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الاَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ

103.  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui. (Quran surat Al An’am ayat 103).

Ketika Rasulullah kembali dari Isra Mi’raj menghadap Allah untuk menerima perintah shalat, salah seorang shahabat Nabi bertanya: “Wahai Rasulullah apakah anda melihat Tuhanmu?” Rasul menjawab : “tidak, tetapi aku melihat cahaya.” (Lihat Kitab Shahih Muslim bab Melihat Tuhan). Cahaya (An Nuur)adalah salah satu sifat Allah, bukan DzatNya.

GhaibNya Allah SWT itu bersifat mutlak hingga alam akhirat, artinya bila orang orang mukmin telah masuk surga ia baru dapat menyaksikan Allah dengan mata telanjang saat itu Allah sudah tidak ghaib bagi penduduk surga, dan menyaksikan wujud Allah itu merupakan nikmat surga yang paling besar. Dalam hadist Nabi disebutkan :

عَنْ صُهَيْبٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ» مسلم ح

Dari Suhayb ra bahwa Nabi saw berkata, Jika penduduk surga masuk surga, Allah yang Maha terpuji dan maha Tinggi berfirman: “apakah kalian menginginkan suatu tambahan?” Mereka mengatakan:”bukankah telah Kau putihkan wajah kami? Dan Kau  masukkan kami kesurga dan Kau hindarkan dari neraka?” Nabi bersabda: maka Allah membukakan tirai hijab hingga tak ada penutup sedikitpun dan tak ada suatu pemberian kepada mereka yang lebih mereka sukai dari melihat Tuhannya Yang Mahakuasa (Hadits Riwayat Muslim).

Meskipun Allah itu Ghaib tetapi keberadaan (existensi)-Nya dapat dibuktikan dengan membaca nas (ayat Al Quran) dihubungkan dengan alam semesta(kauniyyah) yang terang dan jelas ada sinkronisasi antara Ayat Al Quran yang tertulis dengan temuan-temuan ilmiah dari gejala alam yang tergelar, dan adanya interaksi yang dapat dirasakan dalam ibadah manakala ibadah itu dijalankan dengan khusyu dan ihlas. Dengan ibadah yang khusyu dan ihlas akan memberikan pengalaman Ilahiyah kepada pelakunya yang dapat mempertebal iman.

Kedua Alam Ghaib, yang termasuk pada alam ini yaitu Alam Kubur, Alam Barzah (Alam Penantian), Hari Pegadilan Allah, Shirat, Alam Akhirat, Surga dan Neraka, Kerajaan Langit, Arsy (Singgasana Allah) dan lain-lainnya. Saat manusia masih hidup di dunia, Alam Kubur adalah ghaib, yang banyak diragukan manusia  tidak beriman. Tetapi ketika manusia mengalami kematian maka alam ini sudah tidak ghaib lagi, suka atau tidak suka ia akan memasukinya, dan mengalami peristiwa peristiwa di dalamnya, termasuk malaikat Mungkar Nangkir yang menjaganya.

Keadaan alam ghaib telah banyak dikabarkan Allah melalui Nabi-Nya tetapi orang-orang kafir tetap mengingkarinya, hingga ketika menemui alam kubur ini habislah harapannya (putus asa), karena sudah tidak mungkin dapat merubah nasibnya, karena itu Allah menegaskan Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan pemimpinmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka Telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir penghuni alam kubur berputus asa. (surat Al Mumtahanah:13).

Alam kubur bukanlah kuburan tempat mengubur jenazah, tetapi ia adalah alam dilangit, tempat arwah para manusia. Karena itu ketika Rasulullah naik ke langit, beliau bertemu dengan ruh para nabi terdahulu yang sudah wafat, tetapi jasadnya ada di bumi. Bila ada kejadian yang menunjukkan tanda-tanda adanya adzab kubur di tempat penguburan, itu karena Allah berkehendak menunjukkan adanya adzab kubur yang ada di langit tetapi berdampak di tempat penguburan untuk memperingatkan agar manusia mau bertaubat dan beribadah.

Dalam hadits Bukhari no 1273 bab Janaiz, diterangkan bahwa jenazah di dalam kuburnya itu didatangi dua malaikat, dan ditanyakan kepadanya: “apa yang kamu ketahui tentang Muhammad?” maka seorang mukmin akan dapat menjawab dengan benar dan selamat dari azab kubur. Tetapi orang yang tidak beriman tidak akan mampu menjawab dengan benar, maka ia dipukul dengan gada besi, hingga ia berterik dengan teriakan keras yang terdengar seluruh penduduk bumi kecuali jin dan manusia.

Ketiga: Mahluk Hidup yang ghaib mereka itu adalah malaikat, Iblis, syetan, jin, dan ruh manusia. Kegaiban mereka itu tidaklah mutlak, karena Allah SWT memberi idzin kepada Nabi, RasulNya dan sebagian orang beriman yang dikehendakiNya untuk dapat melihatnya, baik melihat dengan mata telanjang, dengan mata bathin, atau melihat dalam mimpi. Karena itu Nabi Sulaiman memiliki bala tentara yang diantaranya terdiri dari golongan jin.

Malaikat adalah mahluk ghaib yang oleh Allah diberi tugas khusus seperti menyampaikan wahyu dan ilham, menjaga kubur, dan lain-lain. Tetapi ada juga malaikat yang ditugaskan menjaga melindungi dan menasehati orang-orang mukmin yang lurus dalam menjalankan agamanya (istiqamah) karena itu Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”.(30) Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.(31)  Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (32). ( Surat Fushshilat).

Kata kunci bantuan malaikat ini adalah beriman, banyak berdzikir dan lurus menjalankan agamaNya (istiqamah). Dzikir termasuk kata kunci karena dalam ayat diatas “sungguh orang mengucapkan Allah Tuhan kami”, artinya banyak mengucapkan kalimat yang baik (thayibah)untuk memahasucikan (tasbih), puji-pujian (tahmid), mengagungkan (takbir), meniadakan selain Allah dan meneguhkan keberadaanNya (Nafi itsbat) yaitu membaca kalimat tahlil dan lain-lainnya.

Pengalaman Ghaib I.

Yang saya maksud pengalaman ghaib yaitu membuktikan keberadaan malaikat dan mahluk ghaib lainnya. Seorang mukmin yang mau berusaha dan mengamalkan amalan tertentu insya Allah diberi idzin untuk mengetahui dan mengenal mahluk ghaib sehingga kita yakin akan keberadaannya. Pengalaman penulis bisa diambil hikmahnya. Sesudah penulis mengamalkan 3 ayat terakhir dari surat Al Hasyr dengan syarat riyadhah, Allah SWT membukakan sedikit hijab, sehingga mengalami beberapa pembuktian tentang malaikatNya dan mahluk ghaib lainnya.

Suatu ketika sekitar th 2001 tetangga saya yang menjadi ketua RW 09 di Kampung Warungboto Yogyakarta, kedatangan tamu saudaranya dari Salatiga Jawa Tengah, tujuannya ingin mencari pengobatan alternativ. Si sakit itu seorang wanita paruh baya yang barusaja keluar dari RS Karyadi karena sudah 6 bulan mondok di RS itu, tetapi belum kunjung sembuh.

Ketika itulah Bu RW (isteri Pak RW) datang menemui saya sesudah shalat Isya, ia meminta agar mengobati sakitnya. Setelah saya datang kerumahnya, saya lihat perutnya sangat besar, kemudian saya katakan kepada pak RW: “ Pak oranng ini obatnya tidak ada selain Al Quran, karena itu mari kita bacakan surat Al Fatihah dan Al Ihlas.”

Mengapa kita bacakan Al Fatihah dan Al Ihlas, hal ini karena Nabi bersabda: “ Mohonlah kesembuhan kepada Allah dari sakit kalian, dengan membaca apa yang Allah memuji terhadap DzatNya sendiri sebelum memuji mahluknya, dan menyanjung DzatNya sendiri sebelum menyanjung mahluknya, yaitu membaca Surat Al Hamdulillah (Surat Al Fatihah) dan Surat Qul Huwallah (Surta Al Ihlash). Barangsiapa yang tidak sembuh dengan Al Quran berarti Allah tidak menghendaki ia sembuh.” (Hadits riwayat Ibnu Qani’ dari Ar Raja Al Ghanawi) Jami’us Shaghir hal 40).

Sesudah kami bacakan dengan wasilah air putih yang saya suruh meminumnya, saya keluar rumah untuk pulang, saat di luar rumah saya melihat malaikat Izrail dengan mata bathin, yang sudah menunggu di depan rumah sebelah selatan dengan memakai jubah dan surban serba hitam. Ketika itu Bu RW menyusul saya meminta agar memberi obat tradisional yang memang sering saya buat, tetapi saya katakan kepadanya bahwa obat tadi sudah cukup.

Namun dia tetap mengikuti saya pulang ke rumah untuk meminta obat tradisional. Sesampainya didepan pintu rumah, saya berkata lagi kepadanya: “Bu dia sudah tidak perlu obat lainnya, karena sudah ditunggu malaikat Izrail.” Bu RW berkata dengan terperanjat: “ wah pak Darowi itu, apa benar?” Saya berkata: “buktikan saja kalau tidak percaya” Sesudah bu RW saya beri obat langsung berpamitan pulang.

Dari cerita selanjutnya dikatakan bahwa malam sesudah dibacakan kedua surat itu si pasien itu sembuh dari sakitnya, keluarganya sangat gembira, termasuk keluarga Pak RW, karena pasien itu sudah mau makan, minum, dan berbicara seperti orang sehat. Tapi sekitar jam 02.30 sisakit itu meninggal dunia di rumah keluarga Pak RW, kemudian langsung dicarikan Ambulan untuk mengangkut jenazahnya ke Salatiga Jawa Tengah.

Pengalaman Ghaib ke II.

Sekitar th 2003 seorang shahabat mengeluh dan meminta bantuan kepada saya beserta Jama’ah Pengajian untuk mengatasi masalahnya. Shahabat itu tinggal di kampung Glagah UH Yogyakarta, sekarang sudah Al mahum, ketika ia masih hidup, mempunyai masalah berkaitan dengan keris pusaka peninggalan kakeknya.

Keris pusaka itu ada jin yang menghuninya, dan sering mengganggu keluarganya, hingga tidak nyaman. Bila anaknya masuk ke dalam kamar tempat menyimpan keris itu, anaknya menjadi rewel dan menangis terus. Ia ingin membuang atau memberikan keris itu pada orang lain, tetapi kuatir mahluk itu mengganggunya. Hingga ia meminta tolong, dan saya sanggupi dengan cara rumah itu digunakan untuk dzikrullah.

Beberapa jam sebelum pengajian dilaksanakan, seorang jamaah sudah lebih dahulu datang ke rumah shahabat itu dan mencoba untuk mengusir jin yang menghuninya, saat keris itu dibuka dari sarungnya (wrangka) dan diletakkan di lantai, keris itu berdiri sendiri diatas ujungnya.

Ketika kawan saya berkomunikasi dengan jin penunggu keris, ia menyuruh agar jin itu pergi dari dalam keris pusaka. Apa yang terjadi? Ternyata keris itu melesat bagaikan panah, menyerang kawan saya, tetapi Alhamdulillah ia bisa menghindar, hingga kerisnya menabrak tembok dan jatuh. kemudian ia ambil dan dimasukkan wrangka lagi, sambil berkata kepada yang punya: “Mas saya tidak mampu menghadapi, nanti serahkan pada pak Darowi saja sehabis dzikir”.

Sesudah para jamaah datang kerumahnya, saya dan semua anggata pengajian merasakan hawa sangat panas yang tidak sewajarnya yang sering disebut hawa siluman, karena hawa di lain tempat saat itu sangat dingin. Bahkan hingga selesai dzikrullah hawa panas itu tetap saja tidak berubah, hingga akhirnya pemilik keris itu mengeluarkan kerisnya diserahkan kepada saya, kemudian keris itu saya keluarkan dari sarungnya dan saya lihat, ternyata keris itu nampak jelek dan berkarat.

Saat itu saya pegang pakai tangan kiri dan saya membaca ayat kursy dengan menahan nafas (tanpa bernafas), sambil saya usap dengan telapak tangan kanan di kedua sisinya, walaupun mata saya terpejam tetapi saya lihat ketika keris itu saya usap, tangan saya bagaikan besi yang digerinda hingga mengeluarkan percikan api.

Setelah selesai, saya lihat keanehan keris itu seakan mengeluaran peluh/keringat, dan menjadi biru mengkilap sangat bagus, dalam seketika hawa yang panas berubah menjadi dingin-sejuk, kemudian kerisnya saya sarungkan dan saya serahkan kepada yang punya : “ini kerisnya insya Allah sudah tidak akan membawa masalah”. Beberapa bulan kemudian saya bertemu pemilik keris dan ia bercerita bahwa sejak malam itu kerisnya sudah tidak pernah membawa masalah lagi, Al Hamdulillah.

Dari pengalaman ini dapat dipetik hikmah bahwa jin dan syetan dapat dikalahkan manakala kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, banyak berdzikir dan berlindung kepadaNya, kita tidak boleh takut kepada jin dan syetan tetapi juga tidak boleh meremehkannya, terbukti dalam surat Al Falaq dan An Nas Allah menyuruh agar kita berlindung kepada Allah dari kejahatannya.

Pengalaman Ghaib ke III.

Tahun 2008 majlis dzikir dan ta’lim menyelenggarakan dzikrullah gabungan di alam terbuka, yaitu di pantai “Sepanjang” sebelah timur pantai Kukup Gunungkidul Yogyakarta. Tujuannya adalah untuk membaca keagungan Allah yang ada di pantai selatan, sekaligus melatih konsentrasi dan kekhusyukan agar para anggota jamaah semakin yakin akan keAgungan Allah SWT.

Ketika kami semua telah turun ke pantai yang berpasir putih dan duduk menghadap kibalat untuk berdzikir kepada Allah, saya lihat di batas antara pasir pantai dan tanah yang lebih tinggi didekat jalan banyak jin-jin jahat yang berkerumun dan bertepuk tangan untuk mengganggu amalan kami, tetapi saya abaikan, karena kami tidak punya maksud jelek kepada mereka.

Ketika kami sedang berdzikir, ternyata anggota jamaah dilempari batu, hingga beberapa diantaranya terkena lemparan itu, tetapi sama sekali tidak membahayakan. Ketika saya memimpin dzikir itu, sayapun didekati dan perut saya dipukul oleh jin jahat hingga saya kesulitan bernafas. Karena sudah dizalimi maka sayapun membalas, jin penyerang itu saya hantam dengan bacaan ayat Al Quran hingga lari tunggang langgang.

Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga latihan dzikrullah dan latihan konsentrasi dapat berjalan dengan lancar. Saat kami semua akan pulang ternyata mobil yang saya tumpangi ada masalah dengan lampunya yang tidak mau menyala, padahal lampu itu tadinya tidak ada masalah, ternyata lampu itu dibikin konslet oleh jin jahat, namun akhirnya dapat diperbaiki, dan kami dapat melanjutkan perjalanan pulang.

Saat bus yang saya tumpangi itu sampai di jalan menanjak yang cukup tinggi di sebelah utara Baron, bus itu mesinnya mati dan remnya blong hingga berjalan kebelakang tanpa bisa dikendalikan sopir, padahal saat itu dari bawah masih banyak mobil dan beberapa truk pengangkut yang naik berpapasan dengan bus yang saya tumpangi.

Didalam bus semua penumpang hanya bisa pasrah kepada Allah, dengan tetap tenang, karena kecepatan yang semakin bertambah, sambil mengucap bacaan tasbih dan takbir, tetapi tak ada yang membaca tahmid. Berkat kepasrahan kami ini Allah menyelamatkan kami hingga tidak terjadi tabrakan dengan mobil lain, dan bus kami tidak masuk jurang, bahkan ketika berhenti saya sangat heran, mobil secepat itu tetapi dapat berhenti dengan mulus tanpa goncangan yang berarti, padahal terperosok di parit dekat jurang sehingga kami selamat semua.

Namun masih ada masalah, bagaimana menarik bus itu agar dapat naik kembali ke jalan raya. Kemudian dipasang rantai besi yang cukup besar pada bus, bus itu dihidupkan mesinnya dan ditarik oleh Truk ternyata rantai itu putus. Hingga diganti dengan rantai yang baru dan dihidupkan mesinnya kemudian ditarik Truk lagi, rantai itu putus lagi. Habislah rantai itu. Kemudian ada yang mencari pinjaman rantai di desa Kemadang.

Saat menunggu datangnya rantai itu saya merasakan ada hawa sangar yaitu hawa siluman yang menyerang perjalanan kami, maka saya menyuruh anggota jamaah berkumpul ditepi sebelah barat jalan untuk berdo’a memohon pertolongan Allah SWT. Para jamaah saya ajak membaca surat An Naas hingga beberapa kali, ternyata hawa siluman itu bagaikan tersapu oleh angin lenyap seketika, dan berganti dengan hawa ketenteraman.

Sesudah rantai dipasang, bus itu bahkan belum sempat dihidupkan mesinnya, tetapi sudah dapat ditarik oleh Truk jamaah dari parit naik ke jalan raya dengan selamat tanpa ada secuil kacapun yang pecah, hingga dapat dikendarai pulang sampai Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s