Pemimpin Dalam Islam


Sulthan ( السُّلْطَانُ ) mempunyai beberapa pengertian,  bisa berarti kekuasaan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Isra’ ayat 80.,  juga berarti legalitas/ legitimasi, lihat surat Yusuf ayat 40 , juga berarti dasar/ alasan lihat Surat An Naml ayat 21. bisa juga berarti kekuatan, ilmu pengetahun dan tehnologi, sebagaimana disebut dalam surat Ar Rahman ayat33, dalam istilah lain juga disebut dengan siyasah, atau taktik dan strategi atau cara untuk mencapai keberhasilan.

Bila agama Islam diumpamakan bangunan, maka sulthan adalah atapnya, karena dengan adanya atap dapat melindungi penghuninya dari panas dan hujan. Islam di Nusantara ini laksana bangunan, tetapi belum beratap yang memadai, sehingga belum dapat menyelamatkan umatnya dari berbagai persoalan hidup seperti kemiskinan, pengangguran dan bencana.

Pentingnya Politik sebagai wewenang/kekuasan.

Dalam hadits diterangkan pentingnya politik bagi tegaknya Islam, sebagaimana sabda Nabi :

اَلسُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الآرْصِ يَأْوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفُ وَبِهِ يَنْتَصِرُ الْمَظْلُوْمُ وَمَنْ أَكْرَمَ سُلطَانَ اللهِ فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ ( ابن النجار عن ابى هريرة ) حسن جميع الصغير 38

Politik  itu naungan Allah di bumi, berlindung  kepadanya  orang-orang   yang lemah, dan ditolong dengannya orang-orang yang teraniaya, dan barang siapa memulyakan kekuasan Allah di dunia, Allah akan memulyakannya di hari kiamat. ( Hadits riwayat Ibnu Najar dari Abu Hurairah, Baik), Jami’us Shaghir halaman 38.

Dalam hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Majah, dari Abu Bakar, dari Rasulullah, beliau bersabda :

اَلسُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الآرْصِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ وَمَنْ أَهَانَه‘, أَهَانَه‘اللهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ ( جميع الصغير 34)

Kekuasaan adalah naungan Allah di bumi, maka barang siapa memulyakannya, Allah akan memulyakannya di hari kiamat, dan barang siapa menghinakan/ menyianyiakannya, Allah akan menghinakannya di hari kiamat. ( Jami’ush Shaghir 34).

Kekuasaan Allah, itu diamanatkan kepada manusia, untuk diperjuangkan, dipelihara, dan dijaga, sebagai satu-satunya sarana yag sangat strategis untuk tegaknya syariat/hukum Islam, melindungi kaum yang lemah, memelihara anak yatim, mencegah kemaksiyatan dan kemungkaran. Karena itu barang  siapa   memulyakan kekuasaan Allah sesuai dengan yang diamanatkan, Allah akan memulyakannya di hari kiamat.

Dalam hadits nabi di atas, disebutkan bahwa orang yang menghinakan atau menyia-nyiakan kekuasaan Allah, akan dihinakan Allah di hari kiamat, bermakna bahwa orang yang berjuang untuk meraih kekuasaan tetapi tidak punya kepentingan, arah dan tujuan untuk Islam, maka akan dihinakan Allah di hari kiamat.

Di zaman akhir ini, banyak manusia yang ingin meraih kekuasaan politik, tetapi tujuannya bukan untuk meninggikan kalimatullah, mereka hanya ingin mendapat posisi yang tinggi, dan terhormat, tetapi lupa kepada yang maha Tinggi,  dan kendaraan yang ditumpanginya  bukan  kendaran  yang  menuju  ke arah  penegakkan

hukum Islam.

Sehebat apapun janji mereka untuk memakmurkan rakyat  memerangi kemiskinan dan kebodohan, tetapi bila meninggalkan missi jihad Islam, dan mengabaikan hukum-hukum Allah, maka tidak akan mampu merubah nasib bangsa dari kemalangan dan bencana, karena nasib suatu bangsa itu tidak ditetukan oleh pemimpinnya yang tidak puya kepentingan pada agama yang diridhaiNya. Sabda nabi :

مَنْ أَصْبَحَ لآيَهْتمُُّ بِالْمُسْلِمِْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ( الحاكم عن بن مسعود صحيح) جميع الصغير 164

Barang siapa berpagi pagi, tidak mementingkan urusan kaum muslimin, maka bukanlah golongan mereka (muslim). ( Hadits riwayat Al Hakim, dari Ibnu Masud, Shahih) Jamius Shoghir 164.

Politik Sebagai Legalitas.

Politik sebagai legalitas mengandung maksud bahwa keberadaan/eksistensi dan proses perjuangan yang ditempuh oleh partai dan aktifisfnya itu syah, sesuai komitmen berbangsa dan bernegara, demikian juga kemenangan yang dicapainya sebagai pemegang otoritas, dan kemudian memiliki otoritas untuk mengesahkan suatu pruduk bagi kepentingan bangsa dan Negara.

Legalitas politik, dapat dikaji dari perjalanan sejarah para nabi dan rasul dalam mendakwahkan ajaran Islam. Nabi Musa yang lahir di Mesir pada zaman Firaun, adalah orang yang paling dicari oleh penguasa Mesir saat itu, tetapi Allah menyisipkan bayi Musa ke dalam istana kerajaan, bahkan kemudian diangkat sebagai anak oleh Firaun, maka Musa dikenal sebagai anak raja/pengeran. Allah SWT menyelamatkan Musa dari tangan  yang zalim karena dari bangsa apapun, tangan yang zalim  tidak akan bisa berbuat banyak, hal ini dapat menepis isu-isu negatif tentang keberadaan Musa yang telah diangkat sebagai anak raja. Di sisi lain, dengan legalitas itu pula Allah akan mengutus Musa di masa yang akan datang sebagai seorang rasul untuk mengingatkan Firaun dan bangsa Mesir agar bertauhid dan menyembah Allah.

Legalitas  yang dicapai nabi Muammad saw adalah beliau lahir dari keturunan bangsawan Quraisy yang dihormati, kakek beiau adalahpemegang kunci Ka’bah, beliau menjadi nabi karena menerima wahyu dari Allah, apa yag beliau dakwahkan diikuti oleh  sebagian petinggi Quraisy yang di hormati.

Legalitas Nabi di Madinah dimulai dengan datangnya 2 suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib, yang menyatakan keimanannya, kemudian mereka berbaiat kepada nabi untuk membela perjungannya. Sesudah nabi hijrah ke Madinah berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dan mempersatukanmasyarakat Madinah dengan suatu piagam yang dikenal sebagai piagam Madinah.

Merujuk peristiwa tarih  yang demikian itu, menunjukkan bahwa, perjuangan politik demi tegaknya Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang paling tepat adalah melalui partai politik, yang memiliki azas legalitas, dan  secara syah diakui  oleh pemerintah dan mendapat kepercayaan masyarakat.

Tidak berlebihan kiranya bila kita punya harapan meraih kemenangan, karena dimasa yang lalu, pada era pemeritahan Sukarno, Umat Islam pernah hampir memenangkan perjuangan melalui wakil rakyat di lembaga legislatif, dimana saat itu partai/ Majlis Syura Muslimin Indonesia memiliki kursi yang seimbang dengan kekuatan partai nasionalis sekuler.

Hanya sedikit kekurang sabaran pemimpinnya saja bisa merubah haluan dari perjungan politik ke perjuangan bersenjata, hingga munculah Darul Islam yang dipimpin Karto Suwiryo, dan gerakan bersenjata lainnya. Hingga gelanggang perjungan politik yang diperjuangkan oleh partai Islam mengalami kemunduran hingga sekarang.

Pemikiran yang menyatakan “politik no, Islam yes.” Adalah pernyataan yang tidak berdasar, yang dihembuskan oleh orang-orang yang takut terhadap kemenangan Islam melalui perjuangan yang demokratis dan legal.

Isu-isu yang dikembangkan diluar Islam bertujun untuk menggemboskan agar Islam dan umat Islam steril dari gerakan perjuangan politik, sehingga Islam akan menjadi agama marginal di negeri yang nota bene mayoritas rakyatya beragama Islam. Hal ini dapat dirasakan, bila dimasa yang lalu mesjid itu menjadi markas perjuangan dan pengkaderan calon pemimpin bangsa, maka  masjid  sekarang hanya berfungsi sebagai tempat ritual saja.

Di masa  yang  lalu,  khatib berceramah tentang politik dan perjuangan Islam, sekarang mubaligh hanya berbicara soal-soal muammalah, dan menghindari pembicaraan soal politik, karena takut dianggap memecah belah umat, atau kuatir tidak dipakai lagi. Mubaligh sudah tidak bisa disebut mubaligh karena mualligh itu punya sifat tabligh sebagaimana dicontohkan rasulNya, yaitu menyampaikan kebenaran dalam segala segi kehidupan.

Sulthan/Politik digambarkan sebagai pedang, karena otoritas dan kekuasaan yang di pegangnya.  Dalam  hadits, Nabi bersabda :

ألْجَنَّةُ تَحْتَ ظِلآلِ السُّيُوْفِ ( واه الحاكم عن أبي موسى) جميع الصغير 145

Surga itu ada di bawah naungan pedang-pedang (Hr. Al Hakim, dari Abi Musa)

Hingga masa kini hadits itu tetap relevan, karena makna pedang itu politik/kekuasaan, bila perjuangan partai politik itu untuk menolong tegaknya moral bangsa dan mencegah segala kemungkaran dan kemaksiyatan.

Kemenangan politik partai Islam bisa diraih secara demokratis, bila kaum muslimin di negeri ini berkemauan dan bersatu mendukung    partai Islam. Bila partai Islam mampu memperleh suara  mayoritas jelas akan menempatkan Islam sebagai acuan untuk menata kehidupan bermasyarakat dan berbangsa secara arif dan bijaksana, karena itu jaminnya adalah surga.

Politik itu dalam Islam diilustrasikan sebagai pedang, bila pedang itu dipegang oleh tangan kotor, jahat dan zhalim maka akan digunakan berbuat aniaya, bila pedang itu dipegang orang yang shaleh dan santun, maka pedang itu tidak akan digunakan kecuali dalam kontek yang baik dan benar. Jadi jangan salahkan pedang, tetapi salahkanlah siapa yang memegang pedang itu.

Demikian pula dengan politik, bila politik itu kotor, jangan salahkan politik, tetapi salahkanlah siapa yang memegang politik, bila kekuasaan/politik dipegang oleh wakil rakyat yang terikat dengan komitmen partai bervisi dan missi Islam, maka barakah langit dan bumi akan dibukakan Allah, negeri itu menjadi negeri yang gemah ripah  loh jinawi dalam ridha Ilahi. Kekuatiran diluar Islam terhadap kemenangan politik yang dapat dicapai partai Islam tidak beralasan, karena umat Islam itu memiliki toleransi yang tinggi terhadap pemeluk agama lainnya, bagaimana tidak, karena sekalipun umat agama lain itu minoritas, bisa hidup damai di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim, dan ia berhak menjalankan keyakinanya.

إنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ إنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللهِ يَدُ للهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أوْفَى بِماعَهَدَ عَلَيْهُ اللهُ  فَسَيُوْتِيْهِ أجْرًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepadamu (hai Muhammad) sesungguhnya mereka itu berbai’at kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka, maka siapa yang mengingkari bai’atnya, tidak ada lain kecuali akibatnya akan mengenai dirinya sendiri, dan siapa yang memenuhi apa yan dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pahala yang besar. (QS Al Fath ayat 10).

Bai’at berarti mendukung,membela, pada  pemimpin untuk berjuang meninggikan kalimatullah.Bai’at Pada Masa Nabi,  terjadi tiga kali, pertama terjadi pada tahun 12 kenabian, diikuti 12 orang laki-laki dan seorang wanita, dari suku Aus berasal dari Yatsrib. Kedua tahun ke 13 kenabian, diikuti 73 orang laki-laki dan 2 wanita,  dari  suku  Khazraj  juga  dari Yatsrib. Kedua suku  itu berjanji  kepada  Nabi Muhammad saw, untuk tidak; menyekutukan Allah, mencuri, berzina, membunuh anak-anak, memfitnah , dan tidak mendurhakai Nabi Muhammad saw.

Bai’ah ketiga terjadi pada th 6 Hijrah, ketika Nabi hendak ziarah ke Mekah,  maka beliau mengutus Usman bn Affan. Ketika sampai di Mekah, Usman  ditangkap  dan akan dibunuh oleh orang orang kafir Mekkah. Maka  berbai’atlah kaum muslimin kepada Nabi sebagai sumpah setia untuk menuntut balas atas perbuatan kaum kafir. Mendengar bai’at yang dilakukan kaum muslimin itu, kaum kafir menjadi gentar, dan Usman dilepaskan. Peristiwa ini disebut Bai’tur Ridwan.

Tiga bai’at di atas adalah baiat yang berkaitan dengan peristiwa historis, tetapi ada juga baiat lainnya yang tidak berkaitan dengan peristiwa sejarah sebagaimana tersebut dalam hadits :

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: دَعَانَ النَّبِيُّ صلعم فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيْمَا اَخَذَ عَلَيْنَا اَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِِنَا وَمَكْرَهِنَا وَ عُسْرِنا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لآ نُنَازِعَ الآمْرَ أَهْلَه‘إِلاَّ أَنْ تَرَوْكُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ.(جواهر البخاري 368)

Dari ‘Ubadah bin shamit, ia berkata, nabi saw. telah mengajak kami, kemudian kami berbaiat kepada beliau, maka beliau bersabda,” apa yang ditentukan atas baiat kita ialah agar kita berbaiat untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam keadaan senang atau susah, sukar atau mudah, dan mengalahkan keinginan nafsu kita, dan tidak melepaskan urusan yang sudah dipegang oleh ahlinya, kecuali kamu akan melihat kekafiran yang terang terangan dihadapanmu, yang kekafiran itu dari Allah sudah terang (hukumnya). Jawahirul Bukhari 368.                    Hadits di atas menjelaskan, bahwa baiat itu suatu sumpah/ janji setia, untuk mendengar dan taat pada aturan hukum dan kepada pemimpin, dalam keadaan bagaimanapun, dan rela menyerahkan urusan kepada wakil/pemimpin yang ahli iman dan taqwa, ahli ilmu, dan memiliki kompetensi dalam bidangnya.

Bai’at pada masa sahabat. Dilaksanakan sesudah Nabi Muhammad wafat. Kaum muslimin yang ditinggal pemimpinnya, laksana anak ayam kehilangan induknya,  maka mereka berbai’at untuk memilih pemimpin sebagai Khalifah/Pengganti hingga terpilihlah Abu Bakar sebagai Khalifah I sesudah Rasulullah wafat. Khalifah adalah  pemerintah  orang  beriman/Amirul mukminin, Abu  Bakar berjuang  melawan  perusak  agama,  yaitu para Nabi palsu dan  orang-orang  yang menolak membayar zakat.

Sesudah Abu Bakar wafat, kaum muslimin berbai’at untuk memilih Umar bin Khathab, agar Islam tetap tegak di muka bumi. Demikian seterusnya, hingga kini bai’at itu menjadi suatu mekanisme tampilnya pemimpin yang beriman dan bertaqwa.

Bai’at pada masa sekarang, di Negara RI, yaitu mengikuti pemilihan umum yang dilaksanakan oleh KPU. Dengan memberikan suara dalam pemilu,

bermakna sebagai bai’at bila yang dipilih adalah Partai dan Pemimpin yang bersendi/azas Islam, bervisi dan missi Islam dan partai itu berjuang untuk menegakkan syari’at Islam. Bila hal ini yang kita pilih, berarti kita telah berbai’at kepada Allah, di hari kiamat kelak kita akan diminta tanggung jawab terhadap masalah pemimpin ini.

Kesalahan umat Islam dalam masalah baiat sering terjadi karena fakor figur pemimpin/wakilnya, tidak melihat latar belakang partainya, yang membawa missi Islam dan masih memiliki kreteria jama’ah. Mereka beralasan pada kesalehan figur, tetapi tidak melihat keabsahan partai sebagi jama’ah yang dianjurkan nabi.

Wakil rakyat yang dipilih umat dengan latar belakang dari partai Islam ternyata di kemudian hari hanya memperkaya diri dengan cara tidak halal maka, partai bertugas mencopot wakil rakyat itu, dan umat wajib tetap bersabar dalam mendukung partai /jamaah. Karena nabi bersabda :

إِسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَاحُمِّلُوْا وَعَلَيْكُمْ مَاحمِلْتُمْ (رواه مسلم عن سلمة بن يزيد الجعفى) صحيح مسلم 134

Dengarlah dan taatlah maka sesungguhnya apa yang diperbuat pemimpin itu menjadi tanggung jawabnya (dihadapan Allah) dan laksanakan apa yang mejadi tanggung jawab kalian (mendu- kung jama’ah). ( hr. Muslim dari Sulamah bn Yazid AlJa’fi) Shahih Muslim hal 134.

Bila partai Islam mendapat dukungan kaum muslimin yang mayoritas  di negari ini, insya Allah akan mampu  membuat peraturan dan undang  undang yang melarang segala bentuk kemungkaran dan kemaksiyatan agar selamatlah negeri ini, dari bencana dan malapetaka, negeri yang dibukakan rahmat dan barakah langit sehingga rakyatnya dapat hidup serba berkecukupan, dihilangkan segala bentuk kemiskinan.

Hukum Baiat.

Hukum baiat itu wajib ‘ain bila masih ada Partai Politik yang berbentuk jama’ah. Haram berbaiat bila yang dipilih bukan partai yang berbentuk jamaah. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abi Abdurrahman dari nabi saw;

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنَ الطَّاعَةِ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لآحُجَةً لَه‘ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بِيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَةً (رواه مسلم عن ابي عبد الرحمان) صحيح مسلم 136

Barang siapa lepas tangan dari ketaatan kepada (pemimpin), akan bertemu Allah di hari kiamat tidak punya alasan baginya, dan siapa yang mati  tak ada baiat di tengkuknya, maka mati sebagai jahiliyyah.( hr. Muslim dari Abi Abdur rahman) Sahih Muslim halaman 136.

AJARAN TETANG JAMAAH.

Pengertian Jama’ah.

Jama’ah berarti kumpulan, kelompok, oganisasi baik yang bersifat sosial keagamaan, politik dan lain-lainnya. Jama’ah dalam arti sempit juga berarti kumpulan untuk shalat, dengan pimpinan imam dan diikuti makmum.

Jama’ah dalam arti partai/organisasi, dapat dikaji dari jama’ah kecil, yaitu jama’ah shalat. Syarat shalat itu musti beragama Islam, demikian juga shalat jama’ah. Sebagai organisasi, jama’ah juga mensyaratkan kesamaan agama, bukan dinamakan jama’ah bila anggota dan pimpinan organisasi itu berbeda agama, karena itu Nabi bersabda :

مَنْ جَامَعَ الْمُشْرِكُ وَ سَكَنَ مَعَه‘ فَإِنَّه‘ مِثلُه‘(رواه ابو داود عن سمرة,حسن, جميع الصغير) 169

Barang siapa berpartai/ berorganisasi dengan orang musyrik dan berkecimpung denganya, maka ia serupa dengan orang musyrik itu.( hr. Abu Dawud dai Samurah, Baik) Jami’us Shaghir 169.

Untuk massa pendukung partai politik Islam, tidak masalah berbeda agama, tetapi untuk pimpinan yang akan memperjuangkan syariat Islam, tidak mungkin diperjuangkan oleh orang yang tidak memeluk Islam dan tidak faham akan Islam.

Sifat-sifat ananiyyah/ indvidualisme adalah sifat kontra pruduktif terhadap jamaah, karenanya hendaklah kita tinggalkan, kebersamaan dan persaudaraan hendaknya selalu digalang. Islam mengajarkan agar umatnya selalu dalam jama’ah/ organisasi, khususnya organisasi yang mempunyai visi dan missi untuk kepentingan Islam, baik organisasi sosial maupun politik.

Tegaknya Islam butuh kekuatan jama’ah, dengan berjama’ah, setiap penyimpangan akan dapat dikontrol dan diluruskan, dalam kaitan inilah nabi bersabda :

إنَّ أمَّتِى لَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلآلَةٍ فَإذَا رَأيْتُمْ إخْتِلآفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الآعْظَمِ(ه) عن أنس (صح).

Sungguh umatku tidak berkumpul untuk sepakat pada kesesatan,  bila kalian melihat perselisihan, maka hendaklah kalian ikuti golongan yang besar. (hr Ibnu Majah) dari Anas ( Shahih).

Cara hidup ananiyyah/ egoisme, adalah cara hidup menyendiri. Orang yang menyendiri diilustrasikan bagaikan domba yang memisahkan diri dari kelompoknya,  domba  seperti itulah yang menjadi sasaran dan mangsa syetan. Rasulullah bersabda :

اِنَّ الشَّيْطَانُ ذِئْبُ الاِنْسَانِ كَذِئْبُ الْغَنَمِ يَأخُذُ الشَّاةَ الْقَصِيَةَ وَالنَّاحِيَّةَ فَاِيَّاكُمْ وَالشُّعَابَ وََعَلَيْكُم بِالْجَمَاعَة ِوَالْعَامَّةِ وَالْمَسَاجِدِ (حم )عن معاذ (ح).

Sesungguhnya syaithan itu serigala manusia, sebagaimana serigala domba, ia menerkam domba yang menyendiri, terasing dari kumpulannya, maka jauhilah menyendiri, dan hendaklah kalian berjama`ah, dan umumnya kaum muslimin, biasakanlah berjama`ah di masjid. Hr  Ahmad, dari Mu`adz, Hasan.

Dalam jama’ah itulah urusan kaum muslimin dimusyawarahkan, tolong menolong dilaksanakan, dan bai’at unuk pemimpin ditegakkan, karena itu jama’ah menjadi alat/sarana perjuangan untuk meninggikan kalimatullah agar menjadi aturan yang ditaati dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

Allah berjanji QS Al A’raf :95. manakala suatu masyarakat/ bangsa beriman dan betaqwa, Allah akan membukakan barokah langit dan bumi, kemiskinan dihilangkan, dan bencana dijauhkan, bila hukumNya telah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Partai Politik Islam, adalah organisasi/ jam’iyyah, yang memiliki azaz, visi dan missi Islam, sebagai alat untuk mencapai cita-cita yang diharapkan, sesuai dengan azaz/ dasar perjuangannya.

Pengertian Partai Politik Islam dalam Al Quran

Disebutkan dalam Al Quran surat Al Mujadalah ayat 22/akhir surat,

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang ating daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

[1462]  yang dimaksud dengan pertolongan ialah kemauan bathin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain lain.

Partai Islam disebut sebagai Hizbullah, yang mempunyai sifat-sifat :

1.  Beriman kepada Allah dan RasulNya.

2.  Tidak menyayangi terhadap orang yang memusuhi Allah dan       RasulNya.

3.  Ridha terhadap apa yang ditetapkan Allah dan RasulNya.

Anjuran untuk Berpartai Islam.

إِثْناَنِ خَيْرٌ مِنْ وَاحِدٍ وَ ثَلآثَةٌ خَيْرٌ مِنْ إِثْنَيْنِ وَ أَرْبَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلآثَة, فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ, فَإنَّ الله َ لَنْ يَجْمَعْ أمَّتِيْ إلا عَلىَ هُدَى (حم) عن أبي ذر(صح)

Dua lebih baik dari satu, tiga lebih baik dari dua, dan tiga lebih baik dari dua, dan empat lebi baik dari tiga, maka hendaklah kalian berjamaah/ berpartai, maka sesungguhnya, Allah tidak mengumpulkan umatku, kecuali diatas hidayah/petunjuk. ( hadits riwayat Ahmad, dari Abu Dzar, Shahih).

Hukum berjama’ah.

Hukum berjamah dalam organisasi politik, untuk berbaiat/ memilih partai dan pemimpin adalah wajib ‘ain agar partai yang memperjuangkan syariat Islam bisa menang, dan kaum  muslimin dipimpin orang yang beriman. karena baiat iu tidak banyak menyita waktu.

Berjama’ah sebagai pengurus/aktifis partai Islam hukumnya wjib kifayah, artinya bila sudah ada sekelompok orang muslim  yang melaksanakan kegiatan organisasi politik itu,maka kewajiban berjama’ah itu sudah terpenuhi, tetapi bila tidak ada yang melaksanakan maka kaum muslimin berdosa semuanya.

Berjama’ah sebagai pengurus/aktifis itu wajib kifayah karena urusan politik itu menyangkut kepentingan umum, masyarakat dan bangsa, bila kekuasaan politik dipegang orang orang atheis yang alergi terhadap Islam, maka politik akan menjadi  alat yang efektif untuk memotong-motong syariat Islam dan berbuat zhalim terhadap kaum muslimin. Karena itu nabi bersabda :

لَتَنْقُضَنَّ عَرَاالإسْلآمِ عُرْوَةً عُرْوَةًفَكُلَّمَااِنْتَقَضَتْ تَشَبَثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا فَأَوَّلُهُنَّ نَقْضَ الْحُكْمِ وَأخرُهُنَّ الصّلآةُ (رواه احمد وابن حبان و الحاكم عن أبي أمامة).

Benar-benar akan dipotong potong sendi-sendi Islam sepotong demi seotong, maka setiap terpotong, manusia mengikatkannya kembali, maka yang pertama dipotong adalah masalah hukum, dan akhirnya shalat. ( hr Ahmad,Ibnu Hibban dan Al Hakim, dari Abi Amamah.

Urusan parpol, juga tidak membutukan keterlibatan semua orang/individu, cukup mereka yang memiliki kompetensi dan keahlian saja , sedangkan umat butuh mencari ma’isyah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Individu cukup terlibat dalam masalah baiat yang sangat penting untuk memperjuangan nasib bangsanya.

Beragabung dengan organisasi politik yang tidak memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara haram hukumnya, karena akan melemahkan perjuangan patai Islam sehingga tidak mampu menetapkan undang-undang yang bermoral/beradab. Nabi bersabda :

مَنْ شَدَّدَ سُلْطَانَه‘ بِمَعْصِيَّةِ اللهِ أَوْهَنَ اللهُ كَيْدَه‘يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه أحمدعن قيس بن سعد,حسن) جميع الصغير 173

Barang siapa memperkuat politik yang makshiyat kepada Allah, maka Allah akan menghinakan daya upayanya di hari kiamat. ( hr Ahmad dari Qais bin Sa’ad, Baik) Jami’us Shghi 173.

Organisasi politik yang sekedar menyeru, berjuang dan mempertaruhkan jiwa raga hanya untuk kebangsaan dengan mengabaikan nilai-nilai Islam, tidak sesuai dengan prinsip jama’ah, karenanya orang yang beriman harus mengambil sikap yang benar sesuai Kitabullah dan Sunnah Rasul. Nabi bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَاإِلَى عَصَبِيَّةِ وَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ قَتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةِ وَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةِ (رواه أبودود عن جبير بن مطعم, حسن) جميع الصغير 138

Bukan dari golongan kita orang yang menyeru/mengajak pada kebangsaan, dan bukan golongan kami orang yang berperang karena kebangsaan, dan bukan golongan kami, orang yang mati karena kebangsaan.( hr Abu Dawud dari Jubair bin Muth’am, Baik) Jami’us Shaghir 138.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s