Dasar Dzikrullah

Dzikrullah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)

41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

42. dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.

43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Surat Al Ahzab ayat 41-43).

‏حَدَّثَنَا ‏ ‏مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏أَبُو أُسَامَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ‏ ‏عَنْ‏ ‏أَبِي بُرْدَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي مُوسَى ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏قَالَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ ‏

Telah bercerita kepadaku Muhammad bin al ‘Ala’, telah bercerita kepadaku Abu Usamah dari Buraid bin ‘Abdillah dari Abiy Burdah dari Abiy Musa ra ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw: perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhan nya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhan nya itu seperti orang  hidup dengan orang yang mati.” (Hr. Bukhari).

Komentar : orang hidup itu orang yang hidup hatinya karena selalu mengingat Allah, bila hidup tetapi hatinya lupa kepada Allah maka hatinya sudah mati sehingga tidak punya rasa kemanusiaan, dan tidak punya rasa kasih sayang. Untuk menghidupkan hati yang mati hanya dengan dzikir kepada Allah.

Dasar Dzikir Dengan Suara Keras

حَدَّثَنَا ‏ ‏سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَيُّوبَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي عُثْمَانَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي مُوسَى ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ‏ ‏قَالَ ‏كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏أَيُّهَا النَّاسُ ‏ ‏ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ يَا ‏ ‏عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ ‏ ‏قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ أَوْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ‏(رواه البخاري)

Telah bercerita kepadaku Sulaiman bin Harb, telah bercerita kepadaku Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abiy ‘Utsman, dari Abiy Musa ra, ia berkata: Ketika kami bersama Nabi saw dalam perjalanan, bila mendaki kami membaca takbir, maka Nabi saw bersabda: wahai manusia, rendahkan suaramu untuk diri kalian sendiri, sungguh kalian tidak berdo’a kepada (Dat) yang tuli dan tidak tersembunyi, tetapi kalian berdo’a kepada yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Kemudian beliau menghampiriku dan saya membaca dalam diriku sendiri: la haula wa la quwwata illa billah. Maka beliau bersabda: “hai ‘Abdullah bin Qais, ucapkanlah : la haula wa la quwwata illa bilah, karena sesungguhnya (bacaan) itu gudang dari gudang gudang surga,” atau beliau bersabda: “maukah saya tunjkkan suatu kalimat dia itu gudang dari gudang gudang surga, yaitu :la haula wa laa quwwata illa billah. (Hr. Bukhari).

Imam Syihabuddin Al-Qasthalani ketika mengomentari hadis tersebut berkata:

Dari hadis itu (dapat dipahami), hukumnya makruh mengeraskan suara dalam berdoa dan berdzikir secara munfarid.

Komentar : Larangan Nabi berdzikir dengan suara keras itu bukan larangan mutlak, karena harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi, bila dilakukan oleh satu orang atau kelompok kecil, tidak perlu dibaca keras, tetapi bila dalam kelompok besar diutamakan dibaca keras. Contoh dalam membaca talbiyah, malaikat Jibril menyuruh nabi agar seluruh jamaah membacanya dengan suara keras dan tinggi, karena untuk syiar Islam, demikian juga dalam  takbiran di hari raya, dan dalam majlis dzikir, Allah berfirman dalam surat al Baqarah ayat 200:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

200. apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu[126], atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

[126] Adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu Bermegah-megahan dengan suara keras tentang kebesaran nenek moyangnya. setelah ayat ini diturunkan Maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.

Penjelasan nahwu sharaf kata (كَذِكْرِكُمْ) kata (kum) menunjukan kata ” jamak” atau dzikir dan do’a yang dilakukan secara berjama’ah (3 orang atau lebih),  adapun manfaatnya adalah:

1. Sebagai tarbiah

2. Kepentingan syiar kaum muslimin

3. Rasa bangga terhadap addinil islam yang merupakan agama langit dan  satu-satunya agama yang diterima disisi Allah dan tentunya masih banyak keutamaan-keutamaan lain.

contoh,  saat do’a khotbah jumat, a’idul fitri, a’idul adha dan dzikrullah yang dilakukan secara jama’ah

Adapun Dzikir dengan Merendahkan Suara.

واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara……” (QS Al-A’raaf:205)

Keterangan nahwu saraf:

kata yang merbunyi (واذكر ربك) ini penunjukkan isim tunggal (mufrad) atau dzikir dilakukan secara sendiri “munfarid” begitu juga babu do’a bila dilakukan secara munfarit atau sendiri lebih utamanya dengan merendahkan suara.

Ingat kata :

anta      = kamu satu orang

antum  = kamu (jamak) bayak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s