Hukum Memakai Jilbab

HUKUM MEMAKAI JILBAB

Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad saw, dengan petunjuk dan agama yang benar untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhan yaitu jalan yang mulia dan terpuji, Tuhan mengutus beliau untuk membimbing manusia dalam menyembah Allah, dengan  rasa rendah dan hina dihadapan yang Maha Terpuji dan maha Tinggi, dengan mentaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan dan lebih mengutamakan taat kepadaNya di atas kesenangan dirinya,  Dan Allah mengutus Rasulnya untuk menyempurnakan ahlak sebagai bagian integral dari tata krama yang baik dan mengajak kepada manusia dengan berbagai cara, untuk menjaga moral yang lurus dengan meperingatkan pesan tentang jilbab. Maka datanglah syareatnya yang dibawa Nabi saw, lengkap dalam semua hal yang ketentuan ini tidak perlu disempurnakan oleh mahluknya, ketentuan yang datang dari sisi yang Maha Bijaksana lagi Mengabarkan, yang tahu apa yang benar bagi hambanya, dan Maha Penyayang.
Diantara perilaku yang diajarkan Nabi Muhammad saw dalam masalah iman dan cabangnya adalah memelihara rasa malu yang tak seorang pun dapat menyangkal bahwa malu adalah bagian dari iman yang diperintahkan oleh Syariah dengan menjaga kesopanan adat perempuan dan beretika dengan etika yang baik untuk menjaga dari fitnah dan masuk dalam wilayah ketidakpastian.

Dalam kaitan ini tidak diragukan lagi bahwa jilbab menjadi subyek untuk menjaga fitnah dan memelihara kesopanan yang terbesar yang wajib dipakai dan dilestarikan karena akan mencegah dari terjadinya fitnah. Kita adalah umat di bumi ini yang diberi petunjuk berupa wahyu dan risalah yang mengajarkan memelihara perasaan malu dan kesopanan sesuai dengan jalan yang lurus  dimana  kaum perempuan keluar rumah dengan mengenakan jilbabnya dan menghindari pergaulan bercampur aduk antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya, demikian itulah yang berlangsung di banyak negara Islam, dan segala pujian hanya bagi Allah.

Berbicara tentang jilbab maka ketahuilah bahwa dasar perintah berjilbab dan larangan dari melihat aurat adalah wajib berdasarkan  ketentuan Allah Ta’ala dan sunnah Rasul saw tetapi sebagian orang telah meragukan  wajibnya memakai jilbab, yang mengganggap memakai jilbab itu sebagai mustahab (hal yang tidak wajib), atau sebagai mengikuti tradisi/adat, dan tidak melihat sebagai hukum wajib untuk dilaksanakan pada dirinya sendiri. Untuk menghapus ketidakpastian ini dan mengungkap kebenarannya, maka penting kita sajikan dalam bentuk tulisan. Kita memohon kepada Allah SWT agar kita mendapat ampunannya.

Dasar ayat Al Quran.

Allah berfirman:

‏{‏وَقُل لِّلْمُؤْمِنَـاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَـارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِى إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِى أَخَوَتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَـانُهُنَّ أَوِ التَّـابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِى الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُواْ عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَآءِ وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُواْ إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ‏}‏‏.‏ ‏(‏النور‏:‏ 31‏)‏‏.‏

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke  seluruh badannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.( Nur: 31).

Dalam ayat di atas disebutkan kata “Khumur” jamak dari kata Khimaar dalam bahasa Indonesia artinya Jilbab atau kerudung untuk menutup kepala dan rambut. Yang wajib dikenakan oleh kaum perempuan, selain baju kurung (jilbab) sebagai penutup aurat mereka.

Firman Allah :

‏{‏يأَيُّهَا النَّبِىُّ قُل لاَِزْاوَجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً ‏}‏ الاحزاب 59

Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[*] ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al Ahzab ayat 59).

[*]  Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Batas Aurat

Aurat artinya badan yang wajib ditutup dengan pakaian penutup, yang ada perbedaan antara laki=laki dan perempuan. Aurat laki-laki adalah dari pusar sampai batas lutut, aurat perempuan adalah seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangannya, tetapi sebagian ulama berpendapat bahwa aurat wanita itu seluruh anggota badannya kecuali 2 mata saja, karena itu mereka menyuruh memakai cadar, diantara yang berpendapat demikian adalah : Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, dan Obu Ubaida as Salmani, dan lain-lain (. Adhu-ul Bayan (6 / 568).

Tetapi bila difahami maksud ayat 59 dari surat AQl Ahzab maka tidak ada perintah menutup muka dengan cadar, dan bila muka ditutup cadar tidak akan bisa dikenali sebagaimana maksud ayat ini, agar supaya mereka bisa dikenal.

Dalam hadits disebutkan:

رواه أبو داود في ‏”‏سننه‏”‏ عن عائشة رضي الله عنها أن أسماء بنت أبي بكر دخلت على رسول الله صلى الله عليه وسلّم، وعليها ثياب رقاق فأعرض عنها وقال‏:‏ ‏”‏يا أسماء إن المرأة إذا بلغت سن المحيض لم يصلح أن يرى منها إلا هذا وهذا‏”‏‏.‏ وأشار إلى وجهه وكفيه‏.‏

Diceritakan oleh Abu Dawud dalam Kitab As Sunnan dari ‘Aisyah ra : suatu ketika Asma binti Abu Bakar menghadap Rasulullah saw,   ia berpaling dari baju tipis dan berkata: “Wahai Asma ‘jika seorang wanita mencapai usia menstruasi maka tidak boleh terlihat auratnya kecuali ini dan ini “Dia menunjuk ke wajah dan tangan..”

Inilah ketentuan Syareat berkaitan dengan pemakaian jilbab dan khimar (kerudung) perempuan yang wajib ditaati, setiap apa yang diwajibkan itu bila dilaksanakan mendapat pahala bila ditinggalkan akan disiksa di hari kiamat, karena itu taatilah syareatNya.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s